Edge of Seventeen (2016) bukan sekadar film komedi remaja biasa yang isinya cuma hura-hura. Film garapan sutradara Kelly Fremon Craig ini berhasil menangkap esensi “rasa sakit” saat tumbuh dewasa dengan cara yang sangat jujur, pedas, sekaligus mengocok perut. Mari kita bedah bagaimana kehidupan Nadine yang awalnya biasa saja berubah menjadi bencana nasional (setidaknya menurut versinya sendiri).
Kalau kamu merasa masa SMA adalah masa paling indah, mungkin kamu belum kenal sama Nadine Franklin. Bagi sebagian orang, SMA adalah tentang cinta monyet dan pesta, tapi bagi Nadine, SMA adalah medan perang mental yang penuh dengan kecanggungan sosial dan rasa tidak aman.
Mengenal Nadine: Remaja Paling “Sulit” yang Pernah Ada
Nadine (di perankan dengan sangat brilian oleh Hailee Steinfeld) adalah definisi dari remaja yang merasa dunia bersekongkol melawannya. Sejak kecil, dia merasa seperti orang asing di keluarganya sendiri. Dia tidak populer, tidak atletis, dan punya kepribadian yang cukup meledak-ledak.
Satu-satunya cahaya di hidupnya yang kelam adalah sahabatnya sejak kecil, Krista. Mereka berdua adalah duo tak terpisahkan yang saling menjaga dari kerasnya dunia sekolah. Tanpa Krista, Nadine mungkin sudah “tenggelam” sejak lama. Namun, keseimbangan hidup Nadine yang rapuh ini mendadak hancur berantakan karena satu kejadian yang sebenarnya sepele bagi orang lain, tapi kiamat bagi dirinya.
Baca Juga:
Rekomendasi Film Coming of Age yang Penuh Nostalgia
Pengkhianatan Terbesar: Saat Sahabat Menaksir Kakak Sendiri
Konflik utama di mulai ketika Krista secara tidak sengaja terlibat asmara dengan kakak laki-laki Nadine, Darian (Blake Jenner). Bagi Nadine, ini adalah pengkhianatan level tertinggi. Kenapa? Karena Darian adalah sosok yang sangat dia benci sekaligus dia iri-kan.
Darian adalah segalanya yang bukan Nadine: tampan, populer, atletis, dan disayangi ibu mereka. Melihat satu-satunya orang yang memahaminya (Krista) justru jatuh ke pelukan orang yang paling dia benci (Darian) membuat dunia Nadine runtuh. Dia merasa kehilangan tempat berpijak dan mulai menarik diri dari semua orang, menciptakan dinding isolasi yang justru menyiksa dirinya sendiri.
Pak Bruner: Guru Sinis yang Jadi Tempat Curhat
Di tengah kekacauan emosinya, Nadine sering melarikan diri ke ruang kelas Pak Bruner (Woody Harrelson), seorang guru sejarah yang punya selera humor sangat kering dan sinis. Interaksi antara Nadine dan Pak Bruner adalah bagian terbaik di film ini.
Alih-alih memberikan nasihat manis ala guru di film motivasi, Pak Bruner justru sering membalas curhatan dramatis Nadine dengan ejekan atau komentar sarkas. Namun, di balik sikap cueknya, Pak Bruner adalah satu-satunya orang dewasa yang benar-benar mendengarkan Nadine tanpa menghakiminya secara langsung. Hubungan unik ini memberikan warna komedi yang segar sekaligus menyentuh, menunjukkan bahwa terkadang kita hanya butuh seseorang untuk “hadir” saat kita merasa gila.
Perjuangan Mencari Cinta (dan Validasi)
Sambil meratapi nasibnya yang kesepian, Nadine mencoba mencari pengalihan dengan mendekati cowok yang dia taksir, Nick Mossman. Nick adalah tipikal cowok keren yang sebenernya tidak punya kedalaman karakter, tapi di mata Nadine yang sedang labil, Nick adalah jawaban dari segala kesepiannya.
Di sisi lain, ada Erwin (Hayden Szeto), cowok canggung dan pemalu yang jelas-jelas menyukai Nadine apa adanya. Namun, karena Nadine terlalu sibuk dengan dramanya sendiri dan obsesinya pada Nick, dia sering mengabaikan keberadaan Erwin yang tulus. Dinamika ini menggambarkan betapa seringnya remaja (atau kita semua) mencari kebahagiaan di tempat yang salah hanya karena gengsi atau standar yang keliru.
Mengapa Edge of Seventeen Terasa Begitu “Relatable”?
Satu hal yang membuat film ini menonjol di bandingkan film remaja lainnya adalah keberaniannya untuk menampilkan karakter utama yang tidak selalu benar. Nadine sering kali egois, kasar pada ibunya, dan terlalu membesar-besarkan masalah. Tapi bukankah itu esensi dari menjadi remaja berusia 17 tahun?
Film ini tidak berusaha mempercantik depresi remaja. Film ini menunjukkan bahwa saat kamu berusia 17 tahun, perasaan kesepian itu nyata. Perasaan bahwa tidak ada yang mengerti kamu itu sangat menyakitkan. Lewat akting Steinfeld yang sangat ekspresif, kita di ajak merasakan betapa sesaknya menjadi seseorang yang tidak tahu cara mencintai dirinya sendiri.
Hubungan Ibu dan Anak yang Kompleks
Selain urusan sekolah, Edge of Seventeen juga menyoroti hubungan Nadine dengan ibunya, Mona (Kyra Sedgwick). Keduanya sama-sama labil dan tidak tahu cara berkomunikasi dengan baik sejak kematian sang ayah beberapa tahun sebelumnya.
Kematian ayah Nadine menjadi lubang besar yang tidak pernah benar-benar sembuh. Darian mencoba menutupinya dengan menjadi “pria di rumah” yang sempurna, sementara Nadine justru meledak-ledak. Konflik keluarga ini memberikan bobot emosional yang lebih dalam, membuat film ini tidak hanya sekadar tontonan remaja, tapi juga drama keluarga yang solid.
Transformasi yang Tidak Instan
Jangan harap ada adegan makeover cantik di mana Nadine tiba-tiba jadi ratu prom. Transformasi di film ini bersifat internal. Nadine belajar bahwa dunia tidak berputar di sekelilingnya saja. Dia mulai menyadari bahwa setiap orang, termasuk kakaknya yang “sempurna” dan ibunya yang “menyebalkan”, punya beban dan perjuangan mereka masing-masing.
Momen puncaknya adalah ketika Nadine harus menghadapi konsekuensi dari pesan singkat yang dia kirimkan secara ceroboh kepada Nick. Di situlah dia mencapai titik terendahnya dan mulai menyadari siapa yang benar-benar ada untuknya saat dia hancur.
Komedi Gelap yang Cerdas
Meski temanya cukup berat (depresi, isolasi, kehilangan), Edge of Seventeen di balut dengan dialog-dialog yang sangat cerdas. Skripnya tajam dan tidak ragu untuk menggunakan humor gelap. Keberhasilan film ini adalah membuat penonton tertawa di atas penderitaan Nadine, bukan karena kita jahat, tapi karena kita melihat diri kita sendiri di posisi itu. Kita tertawa karena tahu betapa konyolnya drama-drama yang dulu kita anggap sebagai akhir dunia.
Visual dan Atmosfer yang Mendukung
Sinematografi film ini terasa hangat namun tetap membumi. Penggambaran lingkungan SMA-nya terasa sangat autentik, jauh dari kesan glamor ala serial TV remaja zaman sekarang. Pilihan musiknya pun sangat mendukung setiap suasana, memperkuat rasa cemas sekaligus harapan yang di alami oleh karakter-karakternya.
Setiap sudut sekolah, kamar Nadine yang berantakan, hingga kelas Pak Bruner yang tenang, semuanya di rancang untuk membangun dunia di mana penonton merasa di tarik masuk ke dalam kegelisahan seorang remaja 17 tahun.
Pelajaran Hidup dari Kegilaan Nadine
Menonton Edge of Seventeen adalah seperti melihat cermin masa lalu. Film ini mengingatkan kita bahwa tumbuh dewasa itu memang berantakan. Tidak ada petunjuk pastinya, dan tidak ada yang benar-benar tahu apa yang mereka lakukan.
Pelajaran berharga yang bisa di ambil adalah tentang pentingnya pengampunan—baik memaafkan orang lain maupun memaafkan diri sendiri atas segala kesalahan memalukan yang pernah di buat. Pada akhirnya, kita semua hanya manusia yang mencoba bertahan hidup di tengah kerasnya dunia.
Apakah kamu merasa butuh rekomendasi film serupa yang mengangkat isu kesehatan mental remaja secara ringan? Kamu bisa mulai dengan menonton karya-karya lain dari Hailee Steinfeld yang tak kalah emosional.